Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Utsman bin Affan

Utsman bin Affan dilahirkan pada tahun 573 M pada sebuah keluarga dari suku Quraisy bani Umayah. Nenek moyangnya bersatu dengan nasab Nabi Muhammad saw. pada generasi ke-5. Sebelum masuk islam ia dipanggil degan sebutan Abu Amr. Ia begelar Dzunnurain, karena menikahi dua putri Nabi saw. (menjadi khalifah 644-655 M) adalah khalifah ke-3 dalam sejarah Islam. Umar bin Khattab tidak dapat memutuskan bagaimana cara terbaik menentukan khalifah penggantinya. Segera setelah peristiwa penikaman dirinya oleh Fairuz, seorang majusi persia, Umar mempertimbangkan untuk tidak memilih pengganti sebagaimana dilakukan Rasulullah. Namun Umar juga berpikir untuk meninggalkan wasiat seperti dilakukan Abu Bakar. Sebagai jalan keluar, Umar menunjuk enam orang Sahabat sebagai Dewan Formatur yang bertugas memilih Khalifah baru. Keenam Orang itu adalah Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqash, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Di masa pemerintahan Utsman, Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian yang tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristan berhasil direbut. Ekspansi Islam pertama berhenti sampai di sini.

Pemerintahan Utsman bin Affan berlangsung selama 12 tahun, pada paruh terakhir masa kekhalifahannya muncul perasaan tidak puas dan kecewa di kalangan umat Islam terhadapnya. Kepemimpinan Utsman memang sangat berbeda dengan kepemimpinan Umar. Ini karena fitnah dan hasutan dari Abdullah bin Saba’ Al-Yamani salah seorang yahudi yang berpura-pura masuk islam. Ibnu Saba’ ini gemar berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya untuk menyebarkan fitnah kepada kaum muslimin yang baru masa keislamannya. Akhirnya pada tahun 35 H/1655 M, Utsman dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang berhasil dihasut oleh Abdullah bin Saba’ itu.

Salah satu faktor yang menyebabkan banyak rakyat berburuk sangka terhadap kepemimpinan Utsman bin Affan adalah kebijaksanaannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi. Yang terpenting di antaranya adalah Marwan ibn Hakam Rahimahullah. Dialah pada dasarnya yang dianggap oleh orang-orang tersebut yang menjalankan pemerintahan, sedangkan Utsman hanya menyandang gelar Khalifah. Setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting, Usman laksana boneka di hadapan kerabatnya itu. Dia tidak dapat berbuat banyak dan terlalu lemah terhadap keluarganya. Dia juga tidak tegas terhadap kesalahan bawahan. Harta kekayaan negara, oleh kerabatnya dibagi-bagikan tanpa terkontrol oleh Utsman sendiri. Itu semua akibat fitnah yang ditebarkan oleh Abdullah bin Saba’, meskipun Utsman tercatat paling berjasa membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Dia juga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, masjid-masjid dan memperluas masjid Nabi di Madinah.

Hadits Ghadir Khum

Diriwayatkan dari Al-Bara' bin 'Aazib (RA), bahwasanya beliau berkata: Suatu hari kami bersama RasuluLlah (SAW) sedang dalam perjalanan, lalu kami singgah di Ghadir Khum, kemudian beliau memanggil kami unyuk sholat berjamaah, lalu kami membersihkan tempat diantara 2 pohon untuk RasuluLlah, dan sholat Dhuhur. Setelah Sholat RasuluLlah memegang tangan Ali bin Abi Thalib (RA) sambil bersabda: "Tidakkah kalian tahu bahwa aku ini lebih utama dari orang-orang mu'min dari diri mereka sendiri?"  para sahabat menjawab, "Benar! (Ya RasuluLlah)", kemudian beliau melanjutkan sabdanya, "Tidakkah kalian tahu bahwa aku lebih utama dari tiap-tiap orang mu'min dibandingkan diri mereka sendiri?", mereka menjawab, "Benar!" Kemudian RasuluLlah memegang tangan Ali bin Abi Thalib (RA) sembari bersabda. "Orang-orang yang mengakui aku sebagai walinya, maka (kuangkat) Ali sebagai wali. Ya Allah! dukunglah orang-2 yg mendukung Ali dan musuhilah org-2 yg memusuhinya." Al-Bara' bin 'Azib melanjutkan ucapannya, Kemudian Umar menemui Ali dan mengucapkan, "Selamat wahari ibnu Abi Thalib, engkau telah menjadi wali setiap mu'min dan mu'minah!"

TAKHRIJ HADITS
  1. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal (RHM) dalam Musnad-nya juz I hal 118 dan juz IV hal 281.
  2. Dikeluarkan pula oleh Beliau (Imam Ahmad) dalam Fadha'ilush Shahabah (Tahqiq Ibnu Muhammad Abbas) juz II hal 563-596, Muhaqqiq Ibnu Muhammad Abbas menshahihkan hadits ini.
  3. Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (RHM) dalam Sunan-nya juz I hal 43
  4. Dikeluarkan oleh Imam Al-Hakim (RHM)  dalam Mustadrak 'ala ash-Shahihayn juz III/110
  5. Dikeluarkan oleh Imam At-Turmudzi (RHM) dalam Sunannya juz V/297
  6. Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Abi 'Ashim (RHM) dalam As-Sunnah II/604-607
  7. Dikeluarkan oleh Imam Abu Bakar ibn Abi Syaibah dalam Musnadnya
  8. Dikeluarkan oleh Imam An-Nasaa'i dalam Khash-ish Ali bin Abi Thalib hal 72
TA'LIQ ULAMA'
-    Al-Allamah Al-Hafidz Adz-Dzahabi (RHM) berkomentar dalm kitabnya Tadzkiratul Huffazh juz III hal. 829, "Imam Ath-Thobari menulis thuruq hadits Ghadir Khum dalam 4 juz shg membuat saya terkagum-kagum akan keluasan ilmu riwayahnya, sehingga saya yakin bahwa kisah ini benar terjadi."
-    Al-Allamah Al-Imam Al-Muhaddits Al-Ashr, Syaikhuna Muhammad Nashiruddin Al-Albani (RHM) telah mengumpulkan thuruqul hadits ini dan mentash-hihnya dalam kitab beliau, Silsilah al-Ahaadits ash-Shahiihah juz IV hal. 330, hadits nomor 1750.

NOTE : Bagi yang ingin mengetahui tentang syarh hadits ini dan bantahan thd dakwaan syiah mengenai hadits ini, bisa dirujuk dalam kitab : Minhajus Sunnah Syaikhul Islam, Minhaj I'tidal Adz-Dzahabi, Al-'Awashim minal Qawashim Ibnul Araby.

TANBIH (PERINGATAN)
Orang-2 Syiah (terutama Rafidhah yang sesat dan menyesatkan) berpandangan, bahwa hadist Ghadir Khum ini menyebutkan ta'yin RasuluLlah (SAW) kepada Ali bin Abi Thalib (RA) sebagai khalifah pasca beliau (SAW) dan sebagai penanggung jawab wahyu, mereka juga berpendapat Ali dibaiat pada saat peristiwa Ghadir Khum ini untuk memimpin orang-orang mu'min. Mereka juga berpendapat bahwa pada saat Ghadir Khum ini, Ali di ta'yin sebagai khalifah, turun firman Allah SubhanaHu waTa'ala, (yang terjemahannya) "Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu..." (Al-Maa'idah : 3), dan mengindikasikan bahwa agama telah sempurna pasca ta'yin Ali pada saat peristiwa Ghadir Khum ini, mereka menyandarkan mengenai turunnya firman Allah Ta'ala ini (Al-Maidah : 3) dengan hadits, "Allahu Akbar! atas kesempurnaan agama dan Rabb telah ridha dg risalahku dan wilayah (kekuasaan) Ali setelahku." (Hadits ini Dha'if jiddan dan munkar, ditakhrij oleh Ibnu Mardawaih dan Ibnu Asakir dengan sanad yang dhoif, serta lafadh dhohir hadits ini bertentangan dengan lafadh hadits yang shohih muttafaqun 'alaihi yg menyatakan ayat ini (Al-Maidah : 3) turun saat haji wada' RasuluLlah (SAW).

KESIMPULAN
Hadits ini dg berbagai thuruq dishahihkan oleh sebagian ulama' Ahlus Sunnah wal Jama'ah, namun bukan berarti hadits ini membenarkan dakwaan syiah yang sesat dan menyesatkan tentang baiat terhadap Ali (RA), Ta'yin akan wilayahnya dan cercaan terhadap Abu Bakar dan Umar (RadhiaLlahu 'anhuma) -Nas'aluLlaha salamah wal 'aafiyah- yang mereka tuduh merampas hak wilayah Ali (RA).

Khulafaur Rasyidin

Khulafaur Rasyidin  atau Khalifah Ar-Rasyidin adalah empat orang khalifah (pemimpin) pertama agama Islam, yang dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinan Nabi Muhammad (SAW) setelah ia wafat. Empat orang tersebut adalah para sahabat dekat Muhammad yang tercatat paling dekat dan paling dikenal dalam membela ajaran yang dibawanya di saat masa kerasulan Muhammad. Keempat khalifah tersebut dipilih bukan berdasarkan keturunannya, melainkan berdasarkan konsensus bersama umat Islam

Sistem pemilihan terhadap masing-masing khalifah tersebut berbeda-beda, hal tersebut terjadi karena para sahabat menganggap tidak ada rujukan yang jelas yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad tentang bagaimana suksesi kepemimpinan Islam akan berlangsung. Namun penganut paham Syi'ah meyakini bahwa Muhammad dengan jelas menunjuk Ali bin Abi Thalib, khalifah ke-4 bahwa Muhammad menginginkan keturunannyalah yang akan meneruskan kepemimpinannya atas umat Islam, mereka merujuk kepada salah satu Hadits Ghadir Khum.

Secara resmi istilah Khulafaur Rasyidin merujuk pada empat orang khalifah pertama Islam, namun sebagian ulama menganggap bahwa Khulafaur Rasyidin atau khalifah yang memperoleh petunjuk tidak terbatas pada keempat orang tersebut di atas, tetapi dapat mencakup pula para khalifah setelahnya yang kehidupannya benar-benar sesuai dengan petunjuk al-Quran dan Sunnah Nabi.

Ke empat Khalifa tersebut adalah...
1. Abu Bakar As-Shidiq
2. Umar bin Khattab
3. Utsman bin Affan
4. Ali bin Abi Thalib

Asmaul Husna (nama-nama Allah)

  1. Ar Rahman (Maha Penyayang)
  2. Ar Rahim (Maha Mengasihi)
  3. Al Malik (Maha Menguasai)
  4. Al Quddus (Maha Suci)
  5. Al Salam (Maha Selamat Sejahtera)
  6. Al Mukmin (Maha Melimpahkan Keamanan)
  7. Al Muhaimin (Pengawal serta Pengawas)
  8. Al Aziz (Maha Berkuasa)
  9. Al Jabbar (Maha Kuat Yang Menundukkan Segalanya)
  10. Al Mutakabbir (Yang Melengkapi Segala kebesaranNya)
  11. Al Khaliq (Maha Pencipta)
  12. Al Bari (Maha Menjadikan)
  13. Al Musawwir (Maha Pembentuk)
  14. Al Ghaffar (Maha Pengampun)
  15. Al Qahhar (Maha Perkasa)
  16. Al Wahhab (Maha Pemberi Anugerah)
  17. Al Razzaq (Maha Pemberi Rezeki)
  18. Al Fattah (Maha Pembuka)
  19. Al Alim (Maha Mengetahui)
  20. Al Qabidh (Maha Pengekang)
  21. Al Basit (Maha Melimpahkan Nikmat)
  22. Al Khafidh (Maha Perendah / Pengurang)
  23. Ar Rafik (Maha Peninggi)
  24. Al Mu'izz (Menghormati / Memuliakan)
  25. Al Muzill (Maha Menghina)
  26. As Sami (Maha Mendengar)
  27. Al Basir (Maha Melihat)
  28. Al Hakam (Maha Mengadili)
  29. Al Adil (Maha Adil)
  30. Al Latif (Maha Lembut serta Halus)
  31. Al Khabir (Maha Mengetahui)
  32. Al Halim (Maha Penyabar)
  33. Al Azim (Maha Agung)
  34. Al Ghafur (Maha Pengampun)
  35. Asy Syakur (Maha Bersyukur)
  36. Al Ali (Maha Tinggi serta Mulia)
  37. Al Kabir (Maha Besar)
  38. Al Hafiz (Maha Memelihara)
  39. Al Muqit (Maha Menjaga)
  40. Al Hasib (Maha Penghitung)
  41. Al Jalil (Maha Besar serta Mulia)
  42. Al Karim (Maha Pemurah)
  43. Ar Raqib (Maha Waspada)
  44. Al Mujib (Maha Pengabul Do’a)
  45. Al Wasik (Maha Luas)
  46. Al Hakim (Maha Bijaksana)
  47. Al Wadud (Maha Penyayang)
  48. Al Majid (Maha Mulia)
  49. Al Baith (Maha Membangkitkan Semula)
  50. Asy Syahid (Maha Menyaksikan)
  51. Al Haqq (Maha Benar)
  52. Al Wakil (Maha Pentabir)
  53. Al Qawiy (Maha Kuat)
  54. Al Matin (Maha Teguh)
  55. Al Waliy (Maha Melindungi)
  56. Al Hamid (Maha Terpuji)
  57. Al Muhsi (Maha Penghitung)
  58. Al Mubdi (Maha Pencipta dari Asal)
  59. Al Muid (Maha Mengembalikan dan Memulihkan)
  60. Al Muhyi (Maha Menghidupkan)
  61. Al Mumit (Yang Mematikan)
  62. Al Hayyat (Yang Senantiasa Hidup)
  63. Al Qayyum (Yang Hidup serta Berdiri Sendiri)
  64. Al Wajid (Maha Penemu)
  65. Al Majid (Maha Mulia)
  66. Al Wahid (Maha Esa)
  67. Al Ahad (Yang Tunggal)
  68. As Samad (Yang Menjadi Tumpuan)
  69. Al Qadir (Maha Berupaya)
  70. Al Muqtadir (Maha Berkuasa)
  71. Al Muqaddim (Maha Menyegerakan)
  72. Al Muakhir (Maha Penangguh)
  73. Al Awwal (Yang Pertama)
  74. Al Akhir (Yang Akhir)
  75. Az Zahir (Yang Zahir)
  76. Al Batin (Yang Batin)
  77. Al Wali (Yang Memerintah)
  78. Al Muta Ali (Maha Tinggi serta Mulia)
  79. Al Barr (Yang banyak membuat kebajikan)
  80. At Tawwab (Yang Menerima Taubat)
  81. Al Muntaqim (Yang Menghukum pada yang Bersalah)
  82. Al Afuw (Yang Maha Pengampun)
  83. Ar Rauf (Maha Pengasih serta Penyayang)
  84. Malikul Mulk (Pemilik Kedaulatan Yang Kekal)
  85. Dzul Jalal Wal Ikram (Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan)
  86. Al Muqsit (Maha Seksama)
  87. Al Jami (Maha Pengumpul)
  88. Al Ghaniy (Yang Maha Kaya Dan Lengkap)
  89. Al Mughni (Maha Mengkayakan dan Memakmurkan)
  90. Al Mani (Maha Pencegah)
  91. Al Darr (Yang Mendatangkan Mudharat)
  92. Al Nafi (Yang Memberi Manfaat)
  93. Al Nur (Maha Bercahaya)
  94. Al Hadi (Yang Memimpin dan Memberi Pertunjuk)
  95. Al Badi (Maha Pencipta Yang Tiada BandinganNya)
  96. Al Baqi (Maha Kekal)
  97. Al Warith (Maha Mewarisi)
  98. Ar Rasyid (Yang Memimpin Kepada Kebenaran)
  99. As Sabur (Maha Penyabar)

Penjabaran Rukun Islam

1. Syahadat
Syahadat merupakan rukun Islam paling pertama. Sehingga membaca dua kalimat syahadat merupakan syarat utama apabila seseorang akan memasuki agama Islam. Kalimat syahadat tersebut adalah: “Assyadu’ala Ila Ha Ilallah Wa Assyadu’anna Muhammadarosulullah.” Artinya: Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Rukun Islam pertama ini merupakan ungkapan janji sebagai umat muslim, bahwa kita hanya mengakui adanya satu Tuhan yaitu Allah SwtT. Dengan demikian tentu saja kita tak boleh menduakan-Nya. Bukan hanya menduakan dengan berhala yang dahulu disembah oleh kaum kafir Quraisy, namun juga tak boleh menduakan-Nya dengan berbagai berhala yang kini melenggang di depan mata.

Rukun Islam pertama juga berisi tentang pengakuan kita akan hadirnya Rasulullah Muhammad Saw sebagai rasul dan nabi terakhir di muka bumi ini. Muhammad Saw adalah utusan Allah yang menyampaikan Al-Qur’an dan hadist sebagai pedoman hidup umat muslim di seluruh dunia, mulai dari zaman beliau hidup sampai akhir dunia nanti.

2. ShalatRukun Islam kedua yang harus dipenuhi umat muslim di seluruh dunia tanpa terkecuali adalah menunaikan salat. Salat wajib yang setiap hari harus dilaksanakan ada lima waktu, yaitu:
  1. Shalat Subuh sebanyak dua rakaat.
  2. Dzuhur sebanyak empat rakaat.
  3. Ashar sebanyak empat rakaat.
  4. Maghrib sebanyak tiga rakaat.
  5. Isya’ sebanyak empat rakaat.
Jadi di dalam rukun Islam yang kedua ini, kita dapati kewajiban melaksanakan salat sebanyak 17 rakaat, dilakukan pada waktu siang dan malam hari. Awalnya rukun Islam kedua ini diperintahkan Allah untuk menjalankan shalat 50 waktu sehari semalam. Namun, karena cinta Rasulullah kepada kita maka beliau memohon agar kewajiban shalat tersebut dipangkas menjadi 5 waktu saja.
3. Puasa
Puasa merupakan salah satu rukun Islam ketiga yang mewajibkan umat-Nya untuk menahan lapar, haus, dan segala hawa nafsu seperti kemarahan dan birahi. Puasa wajib dilakukan setiap bulan Ramadhan. Selain puasa, dalam bulan yang penuh berkah tersebut umat Islam menjalankan ibadah sunnah shalat tarawih juga.

Rukun Islam yang ketiga ini dilakukan pada siang hari, tata caranya adalah sebagai berikut:
  1. Berniat puasa di malam haru sebelum terbit fajar
  2. Makan sahur dan mengakhiri makan dan minum apapun sebelum terbit fajar
  3. Menahan lapar, haus, dan nafsu lainnya selama terbit fajar sampai tenggelamnya matahari di waktu Maghrib
  4. Berbuka di waktu maghrib atau saat matahari telah tenggelam.
4. ZakatRukun Islam berikutnya adalah menunaikan zakat. Ada beberapa jenis zakat yang harus ditunaikan. Ada kewajiban mutlak bagi seluruh umat muslim yaitu zakat fitrah yang dibayarkan setiap tahun sekali sebelum hari raya Idhul Fitri.

Jumlah zakat fitrah yang harus dibayarkan setara dengan 2,5 kg beras atau uang yang sepadan dengan bahan pokok makanan kita. Dalam rukun Islam mengenai zakat ini, ada pula kewajiban membayarkan zakat maal yang terdiri dari zakat emas, properti, pertanian, perdagangan dan seluruh harta yang dimiliki oleh seseorang apabila telah mencapai nisab.

Nisabnya yaitu setelah harta tersebut dimiliki dalam waktu sama dengan atau lebih dari satu tahun hijriyah. Wajib dikeluarkan zakatnya apabila harta yang mengendap tersebut telah mencapai jumlah sama dengan atau lebih dari 70 gram emas. Rukun Islam ini mengajarkan umat muslim untuk selalu bersedekah dan peduli sesama.

5. Naik Haji (Bagi yang Mampu)
Rukun Islam kelima ini merupakan satu-satunya rukun Islam yang ditambahi dengan keterangan di belakangnya. Karena memang naik haji merupakan rukun Islam yang tidak semua orang mampu melakukannya. Di samping tempat pelaksanaannya yang jauh bagi penduduk di negara-negara di luar Arab Saudi, biayanyapun terhitung tinggi untuk kalangan tidak mampu.

Rukun Islam

Rukun Islam adalah Jika diibaratkan dengan sebuah rumah, rukun Islam merupakan tiang penyangga rumah, tiang penyangga agama. Kuat tidaknya penyangga bangunan keislaman seseorang akan berpengaruh pada kekokohan agama. Rukun islam sendiri terdiri atas lima perkara, yakni Bersyahadat, Mendirikan shalat, Menunaikan zakat, Berpuasa di Bulan Ramadhan, dan Naik haji bagi yang mampu.

Penjelasan 5 Rukun Islam itu sendiri adalah...
1. Bersyahadat
Rukun islam yang pertama adalah dengan mengucapkan dua kalimat Syahadat, la ilaha ilallah, Muhammad da rosulullah. Aku berjanji tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad utusan Allah. Ya, dua kalimah syahadat itu adalah persetujuan seorang mukmin dengan Allah Swt.

Dengan persetujuan itu, berarti seorang mukmin telah siap untuk bertarung di jalan Allah Swt dan siap menghancurkan segala seuatu yang bertentangan dengan ilah dari Allah swt dalam setiap detik kehidupannya.
2. Shalat
Mengapa seorang mukmin harus mengerjakan shalat lima waktu? Shalat adalah tiangnya agama, barang siapa yang tidak mengerjakan shalat bererti ia telah menghancurkan agamanya sendiri. Selain itu, shalat adalah jembatan antara seorang mukmin dengan Allah Swt untuk tetap berinteraksi.

Dengan mengerjakan shalat, seseorang akan terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Selain shalat wajib lima waktu, seorang mukmin pun bisa mengerjakan shalat sunat lainnya untuk mempererat ikatan batin dengan sang khaliq.
3. Zakat
Zakat adalah sarana berbagi dalam agama islam. Seseorang yang memiliki harta wajib membersihkan hartanya itu dengan mengeluarkan 2,5% dari besarnya harta yang dimiliki dan diberikan pada orang yang berhak menerimanya dari kalangan fakir miskin yang membutuhkan.
4. Puasa Ramadhan
Puasa di bulan Ramadhan hukumnya wajib. Puasa adalah sarana bagi seorang mukmin untuk dapat mengendalikan dirinya dari hawa nafsu dan kebiasaan jasmani lain seperti makan, minum, dan kebiasaan bergunjing.
5. Ibadah Haji
Ibadah haji merupakan rukun islam terakhir yang wajib dikerjakan oleh setiap mukmin yang telah mampu. Mampu di sini bukan hanya dilihat dari kondisi fisik saja, melainkan dari segi finansial. Dengan demikian ibadah haji merupakan latihan bagi seorang mukmin dalam hal berkorban jiwa dan harta di jalan Allah Swt.